Finance

IHSG Merosot! INCO, AKRA, ADMR Jadi Pemberat di Sesi I

Top Indo Apps JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka pekan dengan koreksi tajam, tergelincir ke zona merah pada perdagangan sesi pertama Senin (7/7). Pelemahan ini dipicu sentimen negatif dari ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang berencana mengenakan tarif tambahan sebesar 10% terhadap negara-negara yang dianggap mendukung kebijakan BRICS.

Berdasarkan data dari RTI, IHSG melemah tipis 0,05% atau setara 4,476 poin, mengakhiri sesi di level 6.861,716. Tekanan jual mendominasi, tercermin dari 321 saham yang mengalami penurunan, sementara 233 saham berhasil menguat, dan 230 saham lainnya terpantau stagnan.

Aktivitas perdagangan pada sesi ini mencapai total volume 7,96 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 3,57 triliun, menunjukkan kehati-hatian investor di tengah ketidakpastian global.

Delapan dari total sebelas indeks sektoral turut menyeret kinerja IHSG ke zona merah. Tiga sektor dengan penurunan terdalam adalah IDX-Health yang terkoreksi 0,60%, diikuti IDX-Property sebesar 0,43%, dan IDX-Trans yang melemah 0,42%.

Trump Ancam Tambah Tarif 10% untuk Negara Pendukung BRICS, Bagaimana Nasib Indonesia?

Di antara saham-saham unggulan yang tergabung dalam indeks LQ45, beberapa emiten mencatat penurunan signifikan. Tiga saham top losers LQ45 hari ini meliputi:

  • PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang anjlok 3,09% menjadi Rp 3.450
  • PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) melemah 2,94% ke level Rp 1.155
  • PT Alamtri Minerals Tbk (ADMR) turun 2,08% menjadi Rp 940

IHSG Diproyeksi Menguat Pekan Ini, Simak Rekomendasi Saham dari IPOT

Namun, di sisi lain, beberapa saham LQ45 mampu mencatatkan kenaikan. Tiga saham top gainers LQ45 adalah:

  • PT Map Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) yang melonjak 10,27% ke harga Rp 805
  • PT Barito Pacific Tbk (BRPT) naik 3,87% mencapai Rp 1.610
  • PT Charoen Pokphand Tbk (CPIN) menguat 2,62% ke Rp 4.700

IHSG Bergerak Fluktuatif di Awal Pekan (7/7), Pasar Cermati Kepastian Tarif AS

Ancaman Tarif Donald Trump Terhadap Negara Pendukung BRICS

Sentimen negatif yang memengaruhi IHSG tidak lepas dari dinamika kebijakan perdagangan global, khususnya terkait pernyataan terbaru Presiden AS Donald Trump. Pasar saham Asia-Pasifik sendiri menunjukkan pergerakan yang bervariasi pada perdagangan Senin (7/7), di tengah meningkatnya ketidakpastian global menyusul konfirmasi Donald Trump mengenai pemberlakuan “tarif timbal balik” atau reciprocal tariffs.

Tarif yang pertama kali diumumkan pada April lalu ini akan mulai berlaku pada 1 Agustus 2025, khusus bagi negara-negara yang belum mencapai kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat. Lebih lanjut, dalam pernyataan terpisah pada Minggu (6/7), Trump juga melontarkan ancaman pemberlakuan tarif tambahan sebesar 10% bagi negara-negara yang ia sebut “berpihak pada kebijakan anti-Amerika dari BRICS,” meski tanpa rincian lebih lanjut mengenai definisi atau kriteria negara tersebut.

Pernyataan kontroversial ini muncul bersamaan dengan berlangsungnya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS di Rio de Janeiro, Brasil, sebuah forum penting yang dihadiri oleh para pemimpin negara berkembang. Sebelumnya, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, juga telah mempertegas bahwa tarif yang diumumkan pada April akan diterapkan mulai 1 Agustus 2025 untuk negara-negara yang belum menuntaskan kesepakatan dengan pemerintahan Trump.

Meskipun Bessent menampik anggapan bahwa 1 Agustus 2025 adalah tenggat waktu baru, ia mengakui bahwa tanggal tersebut memberikan jendela waktu tambahan bagi para mitra dagang untuk merundingkan ulang syarat-syarat tarif. Ini menandakan adanya potensi gejolak dalam hubungan dagang global di masa mendatang.

Bursa Saham Asia Terkoreksi Senin (7/7) Pagi, di Tengah Ketidakpastian Tarif AS

Situasi ketidakpastian terkait kebijakan tarif AS ini juga berdampak signifikan pada kinerja pasar saham di kawasan Asia-Pasifik, yang sebagian besar mencatat pergerakan variatif.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 terpantau turun 0,53%, sementara indeks Topix melemah lebih dalam sebesar 0,57%. Berbeda dengan Jepang, bursa saham Korea Selatan menunjukkan penguatan, di mana indeks Kospi naik 0,19% dan Kosdaq menguat 0,16%.

Pasar saham Australia, S&P/ASX 200, terkoreksi tipis 0,11%. Koreksi ini terjadi menjelang pengumuman penting keputusan suku bunga oleh Reserve Bank of Australia (RBA), yang memulai pertemuan dua hari pada hari yang sama. RBA secara luas diperkirakan akan memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,60%.

Sementara itu, indeks Hang Seng Hong Kong kehilangan 0,61% nilainya, dan indeks CSI 300 China daratan juga terpantau turun 0,12%, merefleksikan kekhawatiran global terhadap prospek perdagangan.

Ke depan, para pelaku pasar akan terus mencermati dengan saksama arah negosiasi dagang Amerika Serikat, potensi dampak lanjutan dari implementasi kebijakan tarif tambahan, serta sinyal-sinyal kebijakan moneter dari pertemuan bank sentral di berbagai negara untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi ekonomi global.

Ringkasan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka pekan dengan koreksi tajam pada sesi pertama Senin (7/7), ditutup melemah tipis 0,05% ke level 6.861,716. Pelemahan ini utamanya dipicu sentimen negatif dari ancaman Presiden AS Donald Trump terkait tarif tambahan 10% bagi negara-negara yang mendukung kebijakan BRICS. Tekanan jual mendominasi pasar, dengan 321 saham mengalami penurunan dan delapan dari sebelas indeks sektoral terseret ke zona merah. Saham-saham unggulan seperti PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), dan PT Alamtri Minerals Tbk (ADMR) menjadi pemberat utama.

Ancaman tarif oleh Donald Trump, termasuk “tarif timbal balik” yang berlaku 1 Agustus 2025 dan tarif 10% untuk negara pendukung BRICS, menciptakan ketidakpastian di pasar global. Pernyataan kontroversial ini bertepatan dengan berlangsungnya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS di Brasil. Bursa saham Asia-Pasifik menunjukkan pergerakan bervariasi, di mana sebagian besar indeks utama seperti Nikkei dan Hang Seng mencatat koreksi. Para pelaku pasar akan terus mencermati arah negosiasi dagang Amerika Serikat dan sinyal kebijakan moneter global.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button